Pemaknaan Ruang dan Simbol Arsitektural dalam Puisi Monumen Tanpa Bayang di Khatulistiwa Karya Alfarid Rahman Hakim untuk Pembelajaran Apresiasi Sastra

Kajian Ruang dan Simbol Arsitektural

Authors

  • Ramadhan Kusuma Yuda Universitas PGRI Pontianak
  • Andrian Andrianaan Universitas PGRI Pontianak

Keywords:

puisi, ruang, simbol, apresiasi sastra

Abstract

Penelitian ini umumnya menggunakan pendekatan semiotik dan/atau strukturalisme genetik untuk membongkar makna tersembunyi, terutama yang berkaitan dengan konteks sosial dan budaya di balik simbol-simbol arsitektural.Fokus:Analisis Fokus utama adalah pada bagaimana elemen arsitektur (seperti monumen, bayang-bayang, khatulistiwa, dll.) tidak hanya berfungsi sebagai latar fisik, tetapi juga sebagai simbol yang merefleksikan isu-isu sosial, politik, atau eksistensial. Konsep ruang dianalisis sebagai wadah makna yang berinteraksi dengan subjek (manusia) dan sejarah.. Hasil analisis menunjukkan bahwa puisi ini kaya akan metafora arsitektural yang menyiratkan tema-tema seperti kehilangan identitas, krisis spiritual, pengabaian sejarah, atau kontradiksi antara janji ideal (monumen) dan realitas tanpa makna (tanpa bayang). Monumen di sini sering dimaknai bukan sebagai struktur kejayaan, melainkan sebagai pengingat akan kehampaan atau ironi..Analisis mendalam ini sangat relevan untuk pembelajaran apresiasi sastra.Puisi ini dapat digunakan untuk mengajarkan siswa:Analisis Simbol:Mengidentifikasi dan menafsirkan simbol-simbol kompleks di luar makna literal.Pemahaman Konteks: Menghubungkan karya sastra dengan konteks sejarah, budaya, dan geografisnya (dalam hal ini, konsep Khatulistiwa).Keterampilan Menafsirkan Ruang: Memahami bagaimana elemen fisik seperti ruang dan bangunan diolah menjadi tema dan pesan oleh penyair. Kata Kunci:Puisi, Monumen Tanpa Bayang di Khatulistiwa, Alfarid Rahman Hakim, Semiotika, Simbol Arsitektural, Apresiasi Sastra.

This research generally uses a semiotic and/or genetic structuralism approach to uncover hidden meanings, particularly those related to the social and cultural context behind architectural symbols.Analysis Focus: The primary focus is on how architectural elements (such as monuments, shadows, the equator, etc.) function not only as physical settings but also as symbols reflecting social, political, or existential issues. The concept of space is analyzed as a container of meaning that interacts with the subject (human) and history. The analysis shows that this poem is rich in architectural metaphors that imply themes such as: loss of identity, spiritual crisis, historical neglect, or the contradiction between an ideal promise (the monument) and a meaningless reality (without shadows). The monument here is often interpreted not as a structure of glory, but as a reminder of emptiness or irony. This in-depth analysis is highly relevant to learning literary appreciation. This poem can be used to teach students:Symbol Analysis: Identifying and interpreting complex symbols beyond their literal meaning.Understanding Context: Connecting a literary work to its historical, cultural, and geographical context (in this case, the concept of the Equator).Interpreting Space: Understanding how physical elements such as space and buildings are transformed into themes and messages by the poet.Keywords: Poetry, Monument Without Shadows on the Equator, Alfarid Rahman Hakim, Semiotics, Architectural Symbols, Literary Appreciation

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alpiah, Y., & Wikanengsih, W. (2019). Analisis Struktur Fisik dan Batin Puisi "Sajak Putih" Karya Chairil Anwar dan Pemanfaatannya dalam Pembelajaran Sastra di SMA. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(1), 1–10.

Aminuddin. (2004). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo. (Dasar-dasar untuk pembelajaran apresiasi).

Barthes, R. (2010). Membedah mitos-mitos budaya massa: Semiotika atau sosiologi tanda, simbol, dan representasi. Jalasutra.

Buell, L. (1995). The environmental imagination: Thoreau, nature writing, and the formation of American culture. Harvard University Press.

Endraswara, S. (2016). Ekologi Sastra: Kritik Sastra Berwawasan Ekologi. Yogyakarta: CAPS.

Endraswara, Suwardi. (2008). Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press

Garrard, G. (2004). Ecocriticism. London: Routledge.

Garrard, G. (2012). Ecocriticism (2nd ed.). Routledge.

Glotfelty, C. (1996). “Introduction: Literary Studies in an Age of Environmental Crisis.” Dalam Glotfelty, C. & Fromm, H. (Eds.), The Ecocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology (hlm. xv–xxxvii). Athens: University of Georgia Press.

Ishar, H K. 1992. Pedoman Umum Merancang Bangunan. Jakarta: Gramedia

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ruangan

Jannah, A., & Effendi, A. N. (2024). Kajian Ekologi Sastra (Ekokritik) dalam Antologi Puisi Negeri di atas Kertas Karya Komunitas Sastra Nusantara: Perspektif Lawrence Buell. Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Special Edition: Lalonget V ; 77—90.

Khomisah, K. (2020). Ekokritik (Ecocriticism) Dalam Perkembangan Kajian Sastra. Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam, 17(1), 83-94.

Lubis, S., & Gani, E. (2019). Model Pembelajaran Apresiasi Sastra Berbasis Kearifan Lokal dalam Pengembangan Karakter Siswa. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 4(2), 150–162.

Luxemburg, Jan van, dkk. (1984). Pengantar Ilmu Sastra. (Terjemahan). Jakarta: PT Gramedia.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Piliang, Yasraf Amir. (2010). Semiotika dan Hipersemiotika: Kode, Gaya, dan Persuasi. Bandung: Matahari

Pradopo, R. (2010). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradopo, R. (2010). Semiotika: Teori, Metode, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pradopo, R. D. (2017). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Jakarta : Pustaka Pelajar.

Pradopo, Rachmat Djoko. (2010). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Purbajanti, I. L. (2017). Implementasi Literasi Kritis dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra di Perguruan Tinggi. Jurnal Litera, 16(1), 101–112.

Ratna, N. K. (2015). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: Dari Strukturalisme Hingga Postrukturalisme Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Sugiarti. (2016). “Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah. Seminar Regional Kerjasama Kemitraan Bidang Kebahasaan dan Kesastraan Balai Bahasa Jawa Timur dengan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNiversitas Muhammadiyah Malang, Malang 13 Agustus 2016.

Tarigan, H. G. (2015). Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Wahyu, Widyarso. (2016). Puitika Ruang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Waluyo, Herman J. (2013). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Wellek, René & Austin Warren. (2014). Teori Kesusastraan. (Terjemahan). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Riffaterre, Michael. (1978). Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.

Downloads

Published

2025-12-16

How to Cite

Yuda, R. K., & Andrianaan, A. (2025). Pemaknaan Ruang dan Simbol Arsitektural dalam Puisi Monumen Tanpa Bayang di Khatulistiwa Karya Alfarid Rahman Hakim untuk Pembelajaran Apresiasi Sastra: Kajian Ruang dan Simbol Arsitektural. Jurnal Pendidikan Bahasa, 14(2), 322–335. Retrieved from https://journal.upgripnk.ac.id/index.php/bahasa/article/view/10007